Dosa, Kota, & Kenangan Dari Surabaya

Tidak biasanya gw menulis mengenai resensi musik pada album yang telah gw dengar. Namun gw juga ingin belajar memberikan apresiasi, apalagi terhadap album yang menurut gw sangat pantas untuk didengarkan kepada masyarakat, terutama kepada masyarakat Indonesia. Menurut gw sangat penting sekali untuk mendidik masyarakat Indonesia mengenai eksistensi musik Indonesia, apalagi jika musik yang dihasilkan memiliki potensi untuk dibanggakan.

Grup ini sebenarnya baru saja gw dengar setelah mencari-cari musik gratis (tetapi legal). Nama grup ini adalah Silampukau, sebuah duo yang berasal dari kota Surabaya yang terbentuk tahun 2009, namun sempat hiatus selama 4 tahun. Duo ini sendiri sempat merilis satu EP pada tahun 2011 dan pada tahun ini, mereka akhirnya merilis LP perdananya pada tanggal 19 April yang lalu.

Awalnya, gw sedang mencari lagu-lagu baru karena cepat bosan dengan lagu yang gw miliki di komputer. Salah satu alternatif lagu yang gw suka cari di internet adalah lagu-lagu Indonesia gratisan tetapi tetap legal karena tersedia untuk diunduh secara gratis oleh musisi itu sendiri. Saya akhirnya sampai pada EP mereka yang berjudul Selama Ini yang tersedia pada website Ayorek.

Selama mendengarkan EP tersebut untuk pertama kalinya, gw menyadari betapa simpelnya aransemen yang digunakan untuk produksi rekaman tersebut namun hasilnya tetap bisa rapi dan nyaman untuk didengar. Rasanya seperti mendengarkan sebuah live recording yang hangat untuk didengarkan bersama pada suatu ruangan dan membayangkan sang musisi menceritakan musik tersebut kepada para pendengarnya.

“Merinding” merupakan kata yang tepat untuk mendeskripsikan pengalaman pertama saat mendengarkan EP ini karena harmonisasi duo ini sangat patut untuk diapresiasi karena nada suara mereka yang hampir mirip sehingga saling melengkapi dan juga kepintaran dalam menempatkan harmonisasi nada.

LP pertama mereka yang berjudul Dosa, Kota, & Kenangan pun baru gw ketahui setelah mencari informasi lebih lanjut pada website mereka. Mendengarkan album tersebut pun memberikan rasa hangat yang sama, hanya saja bedanya dengan EP mereka adalah produksi lagu yang lebih bersih untuk didengar namun dengan aransemen akustik yang tetap terdengar simpel. Selain aransemen yang rapi dan kemampuan mereka dalam berharmoni dengan indah, yang juga diutamakan dari duo ini merupakan kepintaran mereka dalam menceritakan sebuah cerita dalam bentuk lirik yang puitis namun sekaligus masih dapat dipahami oleh para pendengar.

Back Cover LP Silampukau

Sesuai dengan judulnya, Dosa, Kota, & Kenangan merupakan cerita mengenai kehidupan kota Surabaya mulai dari penjual miras, anak-anak yang senang bermain bola, dan juga jalan raya pada kota Surabaya. “Doa 1”, yang merupakan single yang diutamakan dalam album tersebut, menceritakan mengenai problematika seorang musisi yang bercita-cita ingin masuk televisi, tetapi pada akhirnya harus masuk pada jalur indie.

Lagu favorit gw pada album mereka pun jatuh pada lagu “Lagu Rantau (Sambat Omah)” yang bercerita tentang seorang perantau yang merasakan susahnya kehidupan seorang perantau di kota Surabaya sehingga ia pun teringat akan masa kecilnya yang bahagia di kampung halamannya. Tidak hanya penulisan cerita yang menarik, namun pembawaan lagu ini patut diacungi jempol 👍. Pada track ini terdapat bagian nyanyian yang saling menimpa sehingga memaksa orang untuk mendengarkan lebih teliti mengenai lirik lagu tersebut. Hasilnya merupakan gabungan dua lirik yang harmonis yang tetap sejalan dengan alur cerita.

Selama mendengar EP dan LP mereka, gw tidak bisa berhenti menebak para musisi yang kira-kira menjadi inspirasi duo folk dari Surabaya ini. Meksipun saya hanya bisa menebak, saya menggambarkan duo ini sebagai perpaduan antara Bob Dylan, Iwan Fals, dan harmonisasi pada Peter, Paul, & Mary ataupun Simon & Garfunkel. Nuansa duo ini seperti mendengarkan musik folk yang eksis pada pertengahan 60an sampai pertengahan 70an. Baru setelah saya mencari sumber, ternyata inspirasi mereka merupakan Bob Dylan, Iwan Fals, dan The Dubliners. (Gw belom pernah mendengar mengenai The Dubliners sebelumnya. Maaf.)

Album seperti itu merupakan album yang dapat membuat pendengarnya penasaran dengan cerita-ceritanya sehingga momen-momen pada lagu-lagunya tidak akan cepat terlupakan dan ingin mendengarkannya terus. Meskipun lagu-lagu dengan genre ini sepertinya sudah hampir punah pada tahun 2015 ini, album tersebut tetap merupakan salah satu album terbaik yang dapat dibanggakan dari Indonesia. Silampukau pun merupakan salah satu duo terbaik yang pernah gw dengar dari Indonesia dan wajib diperhatikan.

Processed with VSCOcam with kk1 preset

Processed with VSCOcam with a6 preset

EP Silampukau yang berjudul Selama Ini masih dapat diunduh secara gratis di Ayorek, sedangkan LP Dosa, Kota, & Kenangan bisa dibeli secara digital lewat iTunes ataupun melalui CD pada toko musik yang menyediakan (biasanya toko musik indie)

Doa 1

Duh Gusti, dulu kala semasa ‘ku remaja,
“nothing else matters,” katanya Metallica.
Sebab hidup, Gusti, kadaluarsa
jika hanya berisi nasehat mama-papa.

Sering, Gusti, aku bertanya-tanya sendiri,
kenapa sih mama tenggelam di televisi,
mengunyah iklan menelan mimpi.
Sabar, mama, tunggu aku masuk ke layar tivi.

Dan inilah nyanyianku.
Semoga mama belum tua saat aku mencapainya.

Duh Gusti, aku kesasar di jalur indie.
Terima sablon kaos dan kadang gantungan kunci.
Musisi, Gusti, musisi,
bukan jadi penjaga distro kayak gini.

Duh Gusti, pernah ‘ku mencoba peruntungan,
dana pas-pasan pokoknya bikin rekaman.
Kuliah, Gusti, kutelantarkan
atas nama musik dan hidup yang penuh kebebasan.

Dan inilah nyanyianku.
Semoga usia belum tua saat mencapainya.

Duh Gusti, kini ‘ku mulai lelah jadi musisi.
Jiwaku remuk terteror televisi.
Aku cemas, Gusti, suatu nanti,
aku berubah murahan seperti Ahmad …

Janggalkah, Gusti, perasaan marah ini
saat nalarku direndahkan televisi?
Lihat itu, Gusti, lihat itu,
b’rapa harga tawa mereka di balik layar tivi?

Dan inilah nyanyianku.
Semoga usahaku lancar, berkembang, ber-cuan,
perlahan aku bisa mewujudkan
ziarah ke tanah suci, tanah impian.

Dan inilah nyanyianku.
Semoga terkenal, terpandang, dan banyak uang.

Lagu Rantau (Sambat Omah)

Waktu memang jahanam,
kota kelewat kejam,
dan pekerjaan menyita harapan.

Hari-hari berulang,
diriku kian hilang.
Himpitan hutang. Tagihan awal bulan.

O, demi tuhan, atau demi setan,
sumpah aku ingin rumah untuk pulang!

Tujuh tahun yang lalu,
impian membawaku ke Surabaya: berharap jadi kaya.

–hanya bermodal baju dan seratus ribu, nasib ini kuadu—

Tujuh tahun berlalu,
impianku tersapu di Surabaya: gagal jadi kaya.

–kota menghisapku habis, tubuh makin tipis, dompetku kembang-kempis—

O, demi tuhan, atau demi setan,
sumpah aku ingin rumah untuk pulang.

“Rindu menciptakan kampung halaman tanpa alasan.”

Burung pulang ke sarang, ketam diam di liang,
dan di lautan ikan-ikan berenang.

O, demi tuhan, atau demi setan,
sumpah aku ingin rumah untuk pulang.

“Uang bawa ‘tualang sesat di jalan, menjauhi pulang.”

sumber lirik: silampukau.com

Iklan

2 pemikiran pada “Dosa, Kota, & Kenangan Dari Surabaya

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s