Kompetisi Rating Kali Ya?

Post ini sekalian nyambung sama post gw yang sebelumnya ya. Ga bakal bisa lanjut gw kalau seandainya gw ga selesain post yang ini. Once my mind is set, it is set.

Di saat gw posting ini, ada ajang pencarian bakat yang sedang naik daun di RCTI.
Ajang yang kali ini beda sih konsepnya, dan kalau dicari sejarahnya ternyata ajang musik ini juga masih baru banget di dunia, jadi Indonesia pun merupakan salah satu negara yang memakai format ajang pencarian bakat ini.

Rising Star tampaknya menarik sih kalau gw tonton dan ikuti, dan formatnya pun sangat unik karena juga mengajak para penonton untuk berpatisipasi untuk melakukan voting pada kontestan-konstestan favorit mereka. Bedanya adalah kali ini voting dilakukan dengan mengunduh aplikasi Rising Star di playstore atau apple store. Lucu sih format aplikasinya, karena kita melakukan voting dengan swipe kiri jika tidak suka dan swipe kanan jika menyukai kontestan. (Mirip Tinder ya? tinggal swipe kiri swipe kanan? hihihi)

Para kontestan pun tentunya sangat menarik dan juga unik-unik, dan kadang juga bisa memberikan kesan yang ga terlupakan, ga hanya di mata tapi juga di telinga tentunya. Kadang aja gw juga gatel pengen cepet-cepet swipe yang gw pikir bagus, tapi tentunya harus sabar dong.

Sebagai seseorang yang suka banget mengikuti perkembangan musik, tentunya gw harus mengatakan bahwa orang harus sadar banget bahwa tallent dan musik Indonesia selalu berkembang dan tentunya ke arah yang positif dan tentu hal ini bisa menjadi prestasi yang bisa dibanggakan karena Indonesia pun memiliki musik yang layak untuk didengarkan oleh masyarakat (untuk sementara lupakan saja yang negatif yaa, apalagi lagu-lagu dangdut yang kontennya freak semua)

Tetapi gw menyadari banyak hal yang sebenarnya masih kurang banget jika dibandingkan dengan ajang pencarian bakat versi luar negri.


Ajang pembagian bakat di dunia sekarang dibagi menjadi empat ajang besar, yaitu Idol, The Voice, X Factor, dan yang paling baru ini Rising Star. Apakah Rising Star juga akan sebesar ketiga pesaing lainnya masih belum diketahui ya. Yang pasti keempat acara ini pernah diadakan di Indonesia.

Selama menonton acara-acara tersebut, tentunya hal utama yang harus menjadi sorotan adalah para bakatnya sendiri. Jika diperhatikan, bakat-bakat di Indonesia pun sebenarnya sudah berkembang dengan baik. Selera para kontestan pun sudah sangat bercampur baur karena sudah tersentuh oleh musik-musik dari luar negeri.
Yaa.. hal ini sebenarnya bisa berarti baik dan bisa juga berarti buruk.
Baik karena hal ini bisa menambah wawasan musik orang Indonesia karena orang Indonesia pun perlu mengetahui perkembangan musik di dunia seperti apa.
Tetapi bisa buruk juga karena orang Indonesia bisa menjadi sok ngerti sendiri dengan musik luar dan mencoba menyaingi musik luar. Belum lagi jika para kontestannya mencoba menyanyikan tanpa mengerti makna lagu. Kan gawat banget.. kalau begitu apa tujuannya ingin menjadi penyanyi kalau tidak mengerti makna lagunya apa..

Tetapi selama ini sih para kontestan sih selalu berkembang ke arah yang lebih baik yaa gw rasa.. Jadi tinggal bagaimana para produser dan label untuk mengembangkan talenta-talentanya saja kali ya..

Hal-hal selanjutnya merupakan hal-hal yang menurut gw sangat kurang kalau ingin dibandingkan dengan kompetisi luar negeri. Mungkin yang sedang membaca juga bisa ikut menggangguk jika setuju dan juga memberikan masukan jika tidak setuju. huehehe


Pertama adalah durasi.
Durasi ini sebenernya penting banget. Gw selalu nyadar kalo lomba-lomba di Indonesia selalu menyanyikan lagu dari awal banget sampe habis banget dan bait-bait dan liriknya lengkap.
Kalau dihitung berarti kurang lebih 3-4 menit. Bayangin aja kalo ada 12 kontestan. 36-48 menit sudah hampir satu jam malah.. belum lagi kalau mau tayangin iklan yang biasanya lama sekali, belum juga komentar juri yang kadang suka lama dan bertele-tele ga penting, apalagi pengenalan-pengenalan kontestan sebelum kontestannya mulai nyanyi.

Ga heran kalo acara kompetisi di Indonesia suka terasa lamaaa sekali. Gw biasanya mulai nonton dari jam 9 dan selesainya malah jam setengah 1. Siapa juga yang tahan nonton acara sampai sebegitu lamanya?

Jika coba dibandingkan dengan kompetisi di luar, satu kontestan malah hanya menyanyikan setengah konten lagu dan dipersingkat menjadi kurang lebih 2 menit saja. Selain itu para komentar juri juga lebih ringkas, padat, dan lebih bermakna. Penonton pun jadinya ga bosen dan dapat mengikuti alur acara dengan baik kan?


Kedua adalah format panggung & kamera.
Kalau di luar negeri, pengaturan format panggung mereka bagus untuk memungkinkan pengambilan gambar dari semua sudut. Ga cuman untuk para kontestannya aja, tapi untuk para jurinya juga.
Lah kalo di Indonesia? Kadang pengambilan gambarnya suka ga jelas.. Gw pernah nonton satu bagian di mana pengambilan gambarnya diambil dari jauuuhh banget.. jadi ke mana penyanyinya ke arah mana, si camera mannya tinggal ikutin aja dari jauh.. padahal kan kamera sensitif sekali, jadi jika mengambil gambar dari jauh dan kameranya goyang sedikit, pasti akan terasa sangat goyang..
Terus pada saat lagunya lagu dugem, camera mannya tinggal zoom in zoom out, seakan-akan suasanya asyik banget.. dalem ati gw.. “sok asyik banget sih kameranya zzz”

Tetapi hal ini sih bukan salah camera-mannya, tapi bisa aja karena format ruangannya. Coba perhatikan baik-baik ruangan dalam lomba-lomba seperti Indonesian Idol atau X Factor.
Ajang pencarian bakat di Indonesia biasanya menggunakan ruangan yang sangat besar. Memang sih untuk lomba yang komersil, ruangan yang diperlukan juga harus besar. Tetapi jika ingin menampilkan dalam format TV, ruangannya bakal kelihatan kosong dan gelap juga.

Dibandingkan dengan format luar negeri, lighting pada ruangan memungkinkan supaya ruangan terlihat penuh dan hangat. Selain itu, ruangan yang mereka pakai merupakan studio bikinan sendiri, bukan menyewa balai sarbini atau panggung lainnya yang gede banget.. Pantes aja cameranya sampe kewalahan untuk merekam para kontestannya.
Untung aja dalam acara Rising Star Indo ruangannya sudah memakai yang lebih kecil jadi enak untuk dipandang mata.


Ketiga adalah para penonton di studio.
Sadar ga sih kalo para penonton yang di studio itu ga supportif banget ke para saingannya. Pada saat kontestan lain tampil, mereka diem mematung aja saat selesai, giliran kontestan favoritnya aja tampil jadi sok heboh sendiri..

Gw coba membandingkan dengan format luar negeri. Ketika seorang kontestan sudah selesai tampil, mereka tetap berdiri dan bertepuk tangan dengan supportif. Para penonton pun aktif dan ikut memeriahkan para kontestan saat kontestan sedang tampil.

Lah kalo di Indo? Kalau kontestannya jelek, tepuk tangannya sepi sekali.. seperti tidak ada rasa menghargai sama sekali. Kalaupun ada yang tepuk tangan, tepuk tangannya pun palingย  seadanya saja “yang-penting-gw-uda-tepuk-tangan”. Pada saat kontestan sedang tampil, para penonton juga seperti pasif sekali ya dan hanya duduk manis menonton.. mungkin kalo ada kesempatan untuk mengambil gambar salah satu penonton, mungkin tampangnya bakal mengatakan “Gw-nonton-apa-coba-mana-gw-ngerti-tuh-orang-nyanyi-apa..” Giliran favoritnya muncul aja uda seperti orang kesurupan..

Sebenernya bisa saja bukan salah penontonnya, tapi para produser acara itu sama sekali tidak memberikan arahan sama sekali harus berperilaku seperti apa di dalam studio. Selain itu, kursi di dalam ruangan telah dirancang supaya para penontonnya duduk manis..
Seandainya saja ada bagian di mana para penonton hanya boleh berdiri, atau para kontestannya tidak diperbolehkan duduk saat kontestan sedang tampil. Kan akan tampak lebih hidup.


Keempat adalah para jurinya.
Jika seandainya mengikuti dan menonton acara ajang lomba di luar negeri, tentunya bisa melihat bagaimana cara juri-juri berkomentar saat memberikan masukan pada para kontestan. Para juri biasanya lebih terlihat profesional dan bisa memberikan masukan yang lebih baik.
Para juri yang dipilih juga lebih beragam dan tidak hanya berasal dari satu tim/produksi supaya masukan yang dapat diberikan pada kontestan dapat lebih bervariatif.

Lah kalo di Indo? Memberikan masukan aja terlihat sok jagoan dan terlihat semena-semena banget.. Berasa sok jagoan kali ya? *Apalagi yang itu tuh, yang bikin janji palsu bakal potong titit*. Terus sayangnya, juri-juri yang dipilih tidak mengerti mengenai lagu-lagu luar. Kalaupun terlihat mengerti, sayangnya sudah tersedia skrip yang telah disediakan seandainya saja mereka bener-bener blank.
Para juri yang dipilih juga pasti itu itu saja, seakan-akan sudah berada dari suatu tim khusus untuk kepentingan sendiri (maksudnya ya dari RCT*). Padahal di Indonesia pun pasti lebih banyak musisi dan manajemen yang lebih baik daripada juri yang selama ini telah muncul di TV, dan jika ternyata para penyelenggara tidak menginginkan hal tersebut, maka bisa ditebak jika mereka mempunyai maksud tertentu, seperti hal kelima yang bakal dibahas.


Terakhir mungkin yang paling penting, yaitu tujuan lomba itu sendiri.
Kalau di luar, memang sepertinya dapat dilihat bahwa tujuan lomba tentu berbeda-beda tergantung ajang lomba yang diselenggarakan. Tetapi satu hal yang pasti ialah ajang-ajang lomba itu ga cuman mikirin rating saja, tetapi juga bagaimana mengembangkan talenta para kontestan. Caranya ya dengan pelatihan atau couching pada para kontestannya.
Pelatihan yang diberikan pun biasanya diberikan dengan serius. Kalaupun tidak serius, pasti nantinya bakal terlihat di televisi dan justru rating acara mereka bakal turun karena hasilnya juga akan terlihat pada para kontestannya (American Idol season 12 aja ratingnya turun drastis karena acaranya sendiri mulai ga serius dan lebih fokus ke ratingnya)

Di Indonesia sendiri, sepertinya lomba musik lebih ditujukan untuk menaikkan rating acara doank. Kalaupun diadakan couching, musisi-musisi yang diundang juga kurang bervariatif hanya sesuai dengan apa yang masyarakat inginkan saja. Dan jikapun mengundang bintang tamu dari luar negeri, bintang tamu yang diundang pun yang tidak mempunya kredibilitas yang baik atau istilahnya di luar negeri pun ga mempunyai nama gitu.. biasa kan yang penting terlihat mewah saja di mata masyarakat.. Itu bukannya sama saja dengan menipu masyarakat?

Bisa dilihat juga dari gabungan faktor-faktor di atas. Hal ini seperti durasi acara yang sengaja diperlama (pastinya untuk menampilkan iklan) yang akhirnya satu acara lomba jadi lebih dari 3 jam.. bayangin dong siapa juga yang menciptakan suatu lomba sampe harus 3 jam??
Kemudian penataan panggung, kamera, ataupun rangkaian acara yang sepertinya tidak ada perkembangan selama 10 tahun?? Mungkinkah para crew juga tidak pernah mengalami perubahan sama sekali dan tidak diganti-ganti??
Atau para juri yang sepertinya tiap tahun bertambah tua dan tidak terlalu mengetahui perkembangan musik dunia dan tidak dilakukan perombakan sama sekali?

Kalau begini bagaimana acara televisi dan musik Indonesia bisa maju??

Sayang sekali jadinya kalau Indonesia tidak maju-maju karena pihak penyelenggara ataupun stasiun televisi juga tidak mau berkembang.. Akhirnya masyarakat pun jadinya tidak berkembang juga.. pantas saja masyarakat di Indo sepertinya koq malah tambah katro ya?

Yaa mungkin saja acara-acara ini memang tidak ditujukan bagi para pencinta musik. Pilihan musik para mahasiswa saja sudah lebih beragam dan lebih bervariatif daripada yang disuguhkan oleh televisi Indonesia. Pantas saja para mahasiswa malas untuk menonton acara musik di televisi, toh acara musik di televisi dikembangkan hanya untuk menaikkan rating..

Padahal masyarakat Indonesia pun belum tentu mengerti juga dan cuman ikut meng-iya-kan apa yang mereka tonton..

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s