Sudah pada tau tanggal 11 Oktober itu hari apa?

Mungkin bagi orang awam, tentunya hari itu merupakan hari-hari selayaknya hari biasa karena tidak terlalu penting bagi mereka..

Tetapi bagi orang seperti gw, hari seperti itu tentunya merupakan hari tentu lumayan berharga dan perlu diingat karena hal ini berhubungan dengan mengungkapkan rahasia lu ke seluruh dunia.


Tanggal 11 Oktober adalah Hari Coming Out sedunia, di mana semua orang pun merayakan harinya di mana mereka mengungkapkan jati diri mereka ke orang-orang bahwa mereka tidak menyukai lawan jenis, tetapi suka dengan sesama jenis.

Memang, untuk coming out tentunya tidak harus pada saat tanggal 11 Oktober persis.. Coming out bisa dilakukan kapan saja dan sesuai keinginan orang itu sendiri.

Banyak orang mengatakan setelah coming out, mereka merasa lebih bebas.. seperti merasakan suatu beban yang berat akhirnya lepas dari punggung mereka. Mereka pun tidak harus berpura-pura untuk bertingkah seperti orang straight dan tidak harus perlu memakai topeng untuk menyembunyikan identitas asli mereka.

Tentu saja hal tersebut benar, apalagi di negara yang masih tidak mengakui adanya homoseksualitas, terutama negara yang masih sangat konservatif dan masih berkembang.

Di Indonesia sendiri, banyak kaum LGBT masih terpaksa menutupi identitas mereka sendiri, terutama di depan orang-orang yang lebih tua. Bagi orang Indonesia yang masih berpikiran konservatif, menikah dengan lawan jenis dan berkeluarga merupakan suatu keharusan.

Hal ini tentunya menjadi beban , terutama jika berhubungan dengan lawan jenis bukan merupakan suatu opsi.

Keadaan ini pun diperparah dengan harapan-harapan lingkungan sosial bahwa kita harus setidaknya mempunyai pasangan lawan jenis dan juga berkeluarga, terutama di kota-kota kecil.
“Cakep ya, masa belom punya cewe?”
“Demen cewe yang seperti apa?”
“Situ uda kawin, giliran kamu kapan?”
“Kapan punya anak?”

 

Dengan coming out, tentu saja beban tersebut setidaknya agak diminimalkan karena linkungan sosial pun tidak akan terlalu mengharapkan lebih..

Tapi apakah hal tersebut sudah beres? Tentu saja tidak. Masih terdapat perjuangan-perjuangan lain yang perlu dilakukan agar dapat diterima oleh lingkungan.

Tentu saja tidak semua coming out berakhir dengan baik.
Ada yang akhirnya dijauhi.. Ada yang akhirnya dimusuhi..
Ada yang akhirnya dihina.. Ada yang akhirnya dimaki..
Keadaan terburuk adalah kalau ada yang akhirnya ditendang keluar oleh orang tua mereka, dan hal tersebut tentunya hal yang paling tidak diinginkan oleh para remaja.

Maka dari itu, coming out tidak bisa dilakukan dengan spontan. Semua perlu direncanakan dan dipersiapkan dengan baik.

Orang-orang yang belum menyatakan jati diri mereka harus siap mental untuk menghadapi cobaan-cobaan tersebut.
Mereka pun harus mempertimbangkan banyak hal..

Apakah orang yang diajak berbicara sangat konservatif atau berpikiran terbuka?
Jika didepak dari keluarga, apakah dapat bertahan hidup sendiri?
Bagaimana dengan pertemanan yang selama ini telah dibangun?
Apakah konsekuensi terburuk yang akan terjadi?
Apakah sudah mempunyai teman atau dukungan yang kira-kira akan menerima kamu apa adanya?

Memang tidak mudah untuk memikirkan hal tersebut, tetapi keadaan-keadaan terburuk harus dipersiapkan secara matang.. bayangkan jika tidak ada persiapan dan keadaan terburuk pun terjadi, perjuangan yang dihadapi pun akan terasa lebih berat.

Coming out memang suatu proses dan mungkin tidak semua orang akan menerima secara langsung.. Semua memang membutuhkan waktu

Coming out pun merupakan suatu tantangan karena dengan coming out, mereka akan menjadi sorotan publik sehingga harus bisa menjaga perilaku dengan baik agar tidak tercipta image yang buruk pada mereka sendiri.

Tentunya terdapat orang-orang yang memilih untuk tidak coming out sama sekali dan bagi mereka, lebih baik untuk tidak mengatakan apa pun dan berpura-pura di depan publik agar tidak dihakimi sama sekali.

Tentu saja hal itu sepenuhnya merupakan hak mereka sendiri. Mungkin saja mereka terpaksa karena masalah lingkungan sosial mereka..
Tetapi alangkah lebih baik jika mereka bisa berbagi pikiran pada seseorang sehingga beban mereka bisa lebih berkurang, daripada harus hidup dalam kepura-puraan sampai nanti terlalu telat untuk coming out?
Tentunya tidak ingin sampai melukai perasaan orang lain saat coming out, seperti jika harus mengakui pada istri dan anak-anak bahwa ternyata selama ini lebih menyukai sesama jenis?

Alangkah lebih baik juga jika harus coming out atas kehendak sendiri, daripada harus terpaksa mengakui karena pada suatu alasan tertentu ternyata ketahuan?

Orang-orang yang belum coming out tidak bisa mengurung diri terus-menerus, dan mereka harus mempertanyakan pada diri sendiri, sampai kapan harus begitu terus?

Bagi yang belum coming out, kalian tidak ingin membohongi diri kalian sendiri juga kan?


Pada jaman yang sudah lebih terbuka, banyak orang yang lebih terbuka akan seksualitasnya.. Tidak sedikit juga orang yang senang membagikan kisah-kisahnya.

Satu hal yang pasti, coming out pada jaman sekarang sih lebih mudah dibandingkan jaman dulu.. Bahkan di kota-kota besar Indonesia yang lebih maju, kaum LGBT lebih bisa diterima karena kemajuan teknologi, informasi, dan juga pendidikan.

Salah satunya kisah-kisah pada tahun ini dapat dilihat pada Huffington Post di mana orang-orang membagikan cerita mereka.

Silakan membaca kisah tersebut agar dapat menjadi inspirasi bagi kalian semua 🙂

Iklan

Satu pemikiran pada “11 Oktober

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s