Education In Need

Hanya sebuah opini dari seorang remaja gay yang tinggal di Indonesia…

Baru-baru ini, dunia binan sedang dihebohkan dengan tindakan Fahira Idris kepada sebuah buku, buku anak-anak berjudul “Puberty” yang mengandung unsur homoseksualitas di situ. Buku tersebut pun akhirnya ditarik dari penerbitan Elex Media dan sudah tidak ada lagi di toko-toko Gramedia karena diprotes oleh Bu Fahira.

Alasan Bu Fahira sih sederhana, yaitu “karena agama tidak memperbolehkan..” dan Ibu Fahira tetep kekeuh mempertahankan bahwa homoseksualitas tidak ada dalam dasar agama di Indonesia maupun Pancasila.


Gw pernah denger komentar salah satu orang..
katanya sih lebih mirip pengakuan seorang fujoshi hihihi 
(abaikan aja lol)

Menurut gw sayang banget sih.. karena kalau begini kapan Indonesia bisa dilihat sebagai negara yang telah berkembang? Hal yang seperti ini saja seharusnya kan simple.. Laki suka sama laki, lama-lama cinta deh. Terus pada akhirnya tinggal kawin nikah deh.

Tetapi yang membuat gw lebih prihatin sebenarnya respon masyarakat Indonesia. Melihat bagaimana respon (sebagian besar) masyarakat Indonesia juga sebenarnya membuat mengelus dada. Mereka berani ya mengutarakan ketidakpintarannya (lebih tepatnya pengetahuan mereka yang sempit) mengenai homoseksualitas, dan sekali lagi -tidak pernah lupa- dengan membawa-bawa nama agama (di saat seperti ini baru terlihat sucinya orang Indonesia)

Ngomongnya juga demi kemanusiaan dan HAM maka homoseksualitas ga diperbolehkan di Indonesia.
Are you kidding me??
Bukannya HAM itu yang justru memperjuangkan semua umat manusia ya?? Apalagi gw sebagai gay, yang merupakan kaum minoritas yang lebih tertindas..
Kadang bingung juga (atau lebih tepatnya emosi kali ya) melihat respon masyarakat Indonesia yang selalu membawa nama agama untuk menolak ide-ide baru yang sebenarnya tidak merugikan mereka juga..

Alasan klasik: LGBT tidak diperbolehkan di agama.. titik.

(Sebagian besar) orang tua pun tentunya tidak setuju mengenai homoseksualitas, mengatakan homoseksualitas itu hanya suatu penyakit dan suatu alasan saja. Dan orang tua pun merasa kecewa karena merasa mendidik anak mereka dengan salah..

Salah satu temen gw aja akhirnya musti jujur ke orang tuanya kalo dia gay, dan sampe sekarang bahkan masih susah untuk meyakinkan oran tuanya kalo sebenarnya gay itu normal dan salah satu bagian kehidupan manusia.. It’s definitely still a struggle until now..

Jujur aja, kadang kalau melihat negara yang lebih berkembang, gw juga jadi semakin sirik. I envy them with all my heart, fighting not only for their rights, but also for humanity.

Namun kemudian, gw juga melihat fakta di balik dunia binan ini, dan sebenernya.. gw juga jadi merasa agak prihatin..

Bagaimana orang-orang gay di Indonesia bisa dikatakan sebagai contoh panutan yang baik jika perilaku mereka juga tidak beretika?
Kehidupan binan biasanya identik dengan party, fun, ataupun free sex. Hal ini tentu membuat masyarakat tambah resah dengan kehadiran orang-orang gay karena tidak sesuai dengan etika masyarakat..
Belum lagi perilaku-perilaku gay lainnya yang bisa dianggap melecehkan orang lain..

Orang-orang gay akhirnya ditakuti oleh masyarakat.. “Takut ketularan” mungkin kali ya istilah mereka..
… atau mungkin lebih takut karena perilaku mereka?

Sebagai orang gay yang lebih banyak bersosialisasi dengan lingkungan yang biasa, tentunya banyak hal negatif yang menjadi perbincangan di kalangan orang straight mengenai streotipe orang gay.. kadang gw hanya ikut mengiyakan saja, tetapi tentu saya juga menjadi malu dan prihatin..

Kita lihat yuk pikiran orang straight pada umumnya ketika berbicara mengenai orang gay:

  • Takut diapa-apain
  • Takut diperkosa
  • Takut digrepe-grepe (pelecehan seksual banget ini mah)
  • Perilakunya mereka lebay (ngondek banget)
  • Mulut rewel (bahkan lebih rewel daripada cewe)
  • Pedofil (ini jelas paling salah ya.. karena gay pedofil)
  • Nafsu sex mereka tinggi
  • Suka selingkuh di belakang (apalagi yang punya istri.. kasian kan istrinya diboongin 😦 )
  • Psikopat (banyak pembunuhan yang muncul di berita, apalagi kalau pelakunya orang gay)

Hal-hal seperti ini sih yang biasa jadi perbincangan di kalangan orang straight mengenai kaum gay, dan sebenarnya bisa dicari di google juga malah dan itulah hasil top search di google…

Sayangnya, mereka sebenarnya tidak salah juga sih.. karena banyak juga orang gay yang berperilaku seperti itu -___-

Tapi kalo dipikir, bukannya orang straight juga ada yang seperti itu? Tentu saja ada.. tetapi biasanya orang tidak akan terlalu mengingat bahwa orang straight yang melakukan hal tersebut.. tapi kalo orang gay yang melakukan? pasti akan selalu tertanam di otak..

Gw sebagai orang gay aja merasa bingung dan malu sendiri bahwa ternyata banyak orang gay yang berperilaku seperti itu di Indonesia..
Menurut gw bikin malu aja, merusak nama kaum gay di Indonesia.. 😡

Tapi apakah semua orang gay seperti itu? Tentu tidak!

Selama bersosialisasi dengan orang-orang gay, ternyata banyak juga orang gay yang tidak seperti bayangan masyarakat pada umumnya mengenai stereotipe orang gay.. Banyak dari kami yang juga orang-orang baik 🙂
Kami hanya manusia biasa koq, manusia yang juga mencari ilmu dan impian.. dan yang pasti punya cita-cita dan harapan yang tinggi mengenai masa depan. 😉

Gw, dan juga teman-teman gay gw.. tentunya, ingin supaya hak asasi manusia bagi kaum LGBT terealisasikan di Indonesia. Tentunya menjadi impian yang sangat besar dan sesuatu yang membanggakan jika hal tersebut dapat terpenuhi. Belum lagi jika boleh mendapatkan hak pernikahan untuk sesama jenis.. pasti semua hanya bisa ngomong “Wowww…” sambil melongo besar-besar..

wowww

Tetapi entah kenapa bagi gw sendiri, koq rasanya ada yang belum benar ya?

Ini hanya berdasarkan opini saja, tetapi sepertinya jika orang gay menginginkan pernikahan sesama jenis, ntah kenapa rasanya terlalu awal ya?

Gw cuman takut kalau seandainya pernikahan gay dilegalkan di Indonesia, justru orang-orang gay malah menyalahartikan kebebasan tersebut sehingga menjadi benar-benar bebas. Terutama karena masih banyak orang yang belum dewasa mengenai membangun hubungan dengan orang lain, takutnya malah berpikir bahwa dia akan sangat bebas untuk berpindah-pindah pasangan, apalagi selingkuh..
Ga lucu kan nanti habis menikah terus langsung cerai lagi..

Belum lagi persepsi masyarakat mengenai kaum gay pun masih negatif.. Pastinya masyarakat ga akan bisa menerima langsung perubahan tersebut dan pastinya akan ribut besar.. tentu akan menjadi hal yang sangat kontroversial, apalagi jika menyangkut yang namanya kepercayaan.

Menurut gw kedua kubu masih belum siap sih.. gimana dong?

Bagi gw, semua harus dilakukan per tahap, harus dilakukan pelan-pelan..
Ga mungkin semua terlaksana dengan baik jika tidak ada persiapan sama sekali..
Maka itu, pastinya ada sesuatu yang bisa dilakukan supaya kedua kelompok itu bisa mengerti dan juga belajar.. tapi apa ya?

 
 
 


Yup.
Edukasi seks di Indonesia masih sangat kurang.

Memang, untuk hal seperti ini edukasi seks sepertinya juga masih tabu untuk dibicarakan.. tetapi kalau memang berguna untuk masyarakat kenapa tidak?

Mungkin bagi yang belum pernah mengikuti kelas edukasi seks, mungkin bingung juga kali ya, edukasi seks belajar apaaa coba.. masa tentang gaya-gaya berhubungan seks di ranjang??
Jangan-jangan nanti malah mempromosikan seks bebas lagi..

Actually.. no..

Gw sendiri pernah ngikutin edukasi seks dan justru banyak informasi-informasi berguna yang seharusnya diajarkan saat remaja. Belajar mengenai hubungan seks hanya sebagian kecil saja, tetapi sisanya justru yang lebih berguna bagi edukasi di Indonesia, seperti bagaimana bertanggung jawab terhadap tubuh, budaya-budaya di masyarakat, kekerasan, orientasi seksual, pencegahan kehamilan, penyakit menular, hak asasi manusia, dan hal-hal lain yang berhubungan dengan tubuh dan jiwa.

Dengan adanya edukasi seks yang benar malah jusru bisa mencegah remaja dari melakukan hal-hal yang salah, terutama dalam hal mencoba melakukan hubungan seks.
Ga lucu kan kalau para remaja harus belajar dari cara coba-coba, apalagi kalau dilakukan dengan orang lain.. takutnya akan menjadi kebiasaan dan remaja malah mendapatkan persepsi yang salah mengenai membangun hubungan.
Hal ini bisa membantu terutama remaja-remaja gay yang tidak mendapatkan informasi sama sekali dari kecil.. Para remaja gay pasti tau bagaimana susahnya untuk mencari informasi yang benar karena remaja gay juga bingung harus bertanya ke siapa. Pada akhirnya remaja gay harus hidup dari cara mencoba-coba sehingga hal tersebut bisa saja menjadi kebiasaan buruk. 😦

Persepsi cinta yang salah terjadi karena tidak ada didikan sama sekali...

Selain itu, para remaja juga dapat mengetahui tindakan-tindakan yang tidak diterima pada perilaku masyarakat, seperti melakukan pelecehan seksual. Hal ini berlaku terutama untuk para pria yang memiliki nafsu yang lebih besar dibandingkan yang lainnya..
Kebiasaan melakukan pelecehan seksual pastinya ga bakal mau dibawa sampai dewasa kan? 😦
Dengan memberikan edukasi seks, tentu hal-hal tersebut diharapkan dapat diminimalkan dalam masyarakat.

Mengenai orientasi seksual sendiri, Indonesia sudah seharusnya mulai memperkenalkan orientasi-orientasi seksual yang berbeda kepada masyarakat. Hal ini agar tidak terjadi diskriminasi kepada kelompok LGBT dan justru membantu dalam memberikan solusi. Karena masyarakat terlalu skeptis terhadap kelompok LGBT, maka mereka akhirnya mengucilkan, dan tidak mendidik sama sekali.

Hal tersebut pun pastinya berpengaruh besar dong pada didikan orang tua.. Di saat para remaja mulai tumbuh dewasa, pasti mereka membutuhkan sosok yang lebih baik agar menjadi panutan.
Tanpa adanya pengetahuan yang baik mengenai homoseksualitas, orang tua pasti akan menganggap anaknya tidak “normal”.. padahal ga ada yang salah sama anaknya sama sekali..
Melalui orang tua lah sifat-sifat lebih dewasa dapat diwariskan pada anak-anaknya sehingga bisa bijak dalam menentukan pilihan.
Jangan sampai anak-anak remaja malah mencoba-coba sifat yang salah dan akhirnya malah menjadi kebiasaan sampai tua.. mengerikan..

Bayangkan nanti kalau anaknya sudah besar kemudian dipaksa menikah sama cewe, sementara anaknya juga belum mengaku kalau dia gay (karena tidak berani). Hal ini pun akan mempengaruhi hubugan rumah tangga karena saat menjadi suami, dia pun harus membohongi istrinya karena harus mengejar kepuasan dengan sesama jenis. Itu kalau dia selingkuh.. kalaupun dia tidak selingkuh pun suami tidak akan merasa bahagia sepenuhnya.. terpaksa deh harus hidup dalam kebohongan.

Apakah harus hidup dalam kebohongan?

Untuk orang tua yang masih menganggap anaknya tidak “normal”, jangan sampai menyesal kalau anaknya mulai menjauh dari orang tuanya ya..
Anak gay biasanya bakal merasa kecewa dan akhirnya bakal berusaha untuk mencoba-coba sendiri karena merasa tidak ada yang bisa mendampinginya sampai dewasa.. Ntah kenapa selama ini orang-orang gay yang gw temui pasti memiliki masalah hubungan sama orang tuanya..

Menurut gw, edukasi seks sebenarnya harus dimulai sejak kecil dari jaman SD. Tentu untuk anak jaman SD lebih baik tidak memberikan topik yang berat-berat dulu.. tetapi kalau sudah mulai SMA, lebih baik isu-isu yang lebih dewasa sudah diperkenalkan.. Hal ini tentunya bisa membuat anak SMA lebih bertanggung jawab terhadap tubuhnya dan juga pada interaksi dengan teman sebayanya.. apalagi jika menyangkut tentang bullying dan kekerasan..

Alangkah baiknya jika edukasi seks dijadikan mata kuliah umum pada jenjang universitas. (Agama aja sekarang dijadikan mata kuliah umum pada semua universitas.. masa edukasi seks seperti ini ga bisa huhu)
Justru di masa-masa kuliah para remaja sudah harus mulai berpikir kritis mengenai hak-hak asasi manusia dan menyadari perbedaan di sekitarnya

Alangkah senangnya kalau semua bisa hidup bersama tanpa harus memedulikan perbedaan dan status.
Seandainya semua orang bisa menghargai dan menghormati perbedaan satu sama lain. Apalagi jika semua orang dapat menjalin hubungan yang baik satu sama lain..

Bagi orang-orang straight sebenarnya mereka tidak terlalu mempermasalahkan kehadiran orang gay loh.. setidaknya itu kenalan-kenalan gw sih.. Mereka sebenarnya juga selow dan lebih terlihat terbuka dengan orang-orang gay.. Yaa untung gw tinggal di lingkungan yang juga open-minded dan terdidik dengan pendidikan yang agak lebih baik.

Untuk orang-orang straight yang homophobic atau takut banget, pasti pernah kejadian buruk ama orang gay, atau jangan-jangan dia sendiri yang ingin menutupi kalau sebenernya dia juga gay tapi takut ketahuan aja..
Bisa juga karena dipaksa lingkungan untuk ikut-ikutan menjelek-jelekan orang, apalagi masalah pergaulan dengan teman-teman, ataupun karena merasa agamanya sendiri tidak memperbolehkan sehingga menyerang berdasarkan kata dosa..

It just needs to stop..!!

Kalau seandainya demikian, tolong jangan menyalahkan orang-orang LGBT.. tapi salahkan kurangnya pendidikan pada masyarakat Indonesia.

Sekarang masyarakat Indonesia (terutama di kota besar) lebih bisa menerima dengan baik keberadaan LGBT, tidak separah dulu maksudnya.. Masyarakat pun pikirannya lebih terbuka akan keberadaan gay, beberapa termasuk para orang tua juga 🙂
Mungkin bisa juga melihat website melela.org, di mana orang-orang pun merasa bahagia setelah coming out dengan lingkungannya.
Di situ ga hanya tentang cerita-cerita orang coming out saja, tetapi juga mengenai orang-orang yang menerima teman-temannya dengan baik

Gw percaya koq.. Dengan adanya pendidikan yang baik, masyarakat pasti perlahan-lahan bisa saling menerima satu sama lain dan juga saling mengajari. 🙂

Masalah pernikahan itu masih jauuhh, tapi perlahan tapi pasti semua manusia juga akan belajar koq..

 

 

Tambahan aja:
Selama gw nonton di youtube, satu-satunya video yang kepikiran di otak gw tentang sex education cuman ini

mayan berguna untuk menambah pengetahuan, meskipun menurut gw isi kontennya terlalu padat untuk dimasukkan ke satu video -___-
Jangan lupa untuk menyalakan subtitle agar tidak bingung 😛
Terdapat juga International Technical Guidance on Sexuality Education (Panduan edukasi seks internasional) dari UNESCO yang bisa dilihat di
http://unesdoc.unesco.org/images/0018/001832/183281e.pdf
atau
http://www.unesco.org/new/en/hiv-and-aids/our-priorities-in-hiv/sexuality-education/international-technical-guidance-on-sexuality-education/
Iklan

Satu pemikiran pada “Education In Need

  1. Buku Why itu sbenernya juga ga benar2 banget. Karena di situ dibilang bahwa gay adalah pilihan. Apakah kita bisa memilih siapa yang kita cintai?

    But well, at least buku itu mau mengajarkan agar kita bisa menerima perbedaan.

    Nice writing Le!

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s